YOGYAKARTA, BERITAHARIAN.COM – Geliat bisnis di kalangan alumni pesantren kian marak, namun para pengasuh Pondok Pesantren Krapyak mengingatkan agar aktivitas ekonomi tersebut tidak terlepas dari etika dan nilai-nilai kepesantrenan.
Peringatan ini menjadi bahasan utama dalam diskusi pra-Haul KH Muhammad Munawwir ke-87.
Ketua Yayasan PP Al Munawwir, Gus H Ahmad Shidqi, menegaskan bahwa forum bisnis alumni digelar bukan semata untuk keuntungan materi, melainkan juga untuk menjawab tantangan isu pendidikan dan menjaga nama baik almamater.
“Jaringan bisnis yang dijalankan tidak terlepas dari ajaran pesantren. Selain membawa nilai-nilai ekonomis, juga diharapkan membawa nama harum pesantren,” ujar Gus Asid pada hari Sabtu (30/11) di Aula Inviro Jalan Dongkelan Yogyakarta.
Ia menekankan pentingnya menjaga koridor pesantren di tengah arus informasi yang kerap menyudutkan dunia pendidikan agama.
Gus Asid menekankan bahwa pengasuh pesantren berperan sebagai penjaga nilai dan moral, sementara eksekusi bisnis ada di tangan alumni yang profesional.
Senada dengan itu, Ketua Yayasan Ali Maksum, KH Afif Muhammad, menyoroti tantangan “fitnah akhir zaman”.
Ia mengingatkan alumni agar waspada terhadap tawaran kerja sama korporat yang mungkin memiliki tujuan kurang baik.
Menurutnya, keberhasilan seorang santri diukur dari kemampuannya selamat dari fitnah duniawi, meski tetap harus berdaya secara ekonomi.
“Mbah Munawwir dan Mbah Ali hanya berkecimpung dalam bidang pesantren. Namun demikian, tangan di atas itu lebih berdaya,” tutur Kiai Afif, mengingatkan keseimbangan antara spiritualitas dan kemandirian finansial.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut para santri dan alumni dari berbagai komplek pondok pesantren Krapyak. (*)






