Monumen Karung di Gang Semangka: Ketika Gorong-Gorong Menyerah Menahan Beban Harapan

Indramayu, TERBITHARIAN.COM– Sebuah pemandangan kontras menghiasi aspal di depan Gang Semangka, Blok Buyut Maka, Desa Juntikebon, Kecamatan Juntinyuat. Di tengah mobilitas warga yang cukup padat, berdiri sebuah “monumen” tak lazim: tumpukan karung putih yang mengganjal lubang menganga akibat amblasnya gorong-gorong.

Bukan monumen peringatan sejarah, melainkan monumen peringatan bahaya yang lahir dari inisiatif warga yang lelah menunggu kepastian.

Sudah beberapa waktu terakhir, struktur drainase di bawah jalan tersebut tampak “menyerah”. Beton yang seharusnya menjadi saluran air sekaligus penyangga beban kendaraan, kini justru ambrol ke dalam. Akibatnya, permukaan aspal pun ikut terseret, menyisakan rongga gelap yang siap menjerat roda kendaraan mana pun yang kurang waspada.

Tumpukan karung berisi dedak bekas gilingan padi itu sengaja diletakkan warga bukan tanpa alasan. Tanpa adanya tanda peringatan resmi dari pihak terkait, lubang tersebut menjadi ancaman nyata, terutama saat malam hari ketika pencahayaan minim atau saat hujan deras menutupi pandangan.

Seorang tokoh masyarakat Gang Semangka yang enggan disebutkan namanya (Inisial-red), mengungkapkan kekecewaannya terhadap lambatnya respons dari pihak berwenang.

“Kami tidak punya pilihan lain. Karung-karung ini adalah pesan sekaligus pelindung. Kami tidak ingin ada warga atau pengendara yang terjatuh hanya karena perbaikan jalan yang tak kunjung terealisasi,” ujar beliau dengan nada getir.

Amblasnya gorong-gorong ini bukan sekadar masalah estetika jalan. Kerusakan drainase di titik ini menyebabkan aliran air tidak lancar, yang pada gilirannya berpotensi merusak struktur jalan di sekitarnya lebih luas lagi. Setiap kali kendaraan besar melintas, getaran pada aspal yang rongsok itu seolah memberi sinyal bahwa “monumen karung” ini tidak akan bertahan lama jika beban terus bertambah.

Warga Blok Buyut Maka kini hanya bisa berharap agar “monumen” ini segera dibongkar bukan oleh tangan warga karena bosan, melainkan oleh alat berat dinas terkait yang datang untuk melakukan perbaikan permanen.

Hingga berita ini diturunkan, tumpukan karung putih itu masih setia berdiri di depan Gang Semangka. Ia menjadi pengingat bisu bahwa di sana, ada infrastruktur yang sedang “sakit” dan sangat membutuhkan tangan dingin pemerintah sebelum lubang kecil itu menelan korban yang besar.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *