Ada masa ketika rindu tidak bisa sekadar dikirim lewat layar. Ia harus menempuh jarak, menunggu waktu, bahkan kadang lewat pintu rumah orang lain. Ribet? Ya. Tapi justru karena ribet itulah rindu terasa lebih nyata. Saya tidak bilang masa lalu selalu lebih baik. Saya hanya mengingat satu jenis cinta yang sederhana, tapi penuh niat. Tanpa “fitur” modern, yang dipakai hanyalah sabar, disiplin, dan keberanian menjaga rasa.
Dulu, kangen bukan hal instan. Ia muncul pelan, menancap di pikiran, sampai kita benar-benar melakukan sesuatu. Menulis surat misalnya. Bukan sekadar mengetik di layar, tapi menorehkan kata di kertas yang mudah sobek. Tinta kadang luntur, tangan gemetar karena gugup, tapi rindu itu tetap dituntaskan.
Ada yang menitip surat lewat teman dengan pesan “Jangan bilang siapa-siapa.” Dari situ saya sadar, cinta zaman dulu bukan cuma soal rasa, tapi juga tentang menjaga situasi. Telepon rumah punya dramanya sendiri kita hafal jam aman supaya tidak mengganggu orang tua. Jika salah, panik pun harus disembunyikan di balik sapaan sopan.
Telepon rumah juga punya dramanya sendiri. Kita hafal jam “aman”, karena kalau salah waktu, yang mengangkat bisa bapaknya. Kalau itu terjadi, suara kita mendadak sopan, padahal di dalam kepala panik. “Selamat malam, Om… saya cari Bambang” Setelah telepon ditutup, kita menahan napas, seperti habis lari.
Janji bertemu juga sederhana, tapi tegas. Tepat waktu, tidak ada alasan baterai habis atau sinyal hilang. Sedikit terlambat bisa berarti pulang sendiri. Dari situ kita belajar ketepatan waktu adalah bentuk perhatian. Duduk bersebelahan saja sudah cukup membuat hati hangat, bahu bersenggolan, lalu pura-pura biasa, padahal di kepala ada pesta kecil.
Yang paling khas adalah “ketakutan kecil”. takut ketahuan tetangga, takut jadi bahan obrolan. Lucunya, rasa takut itu tidak melemahkan cinta. Malah mengajari kita batas, membuat kita lebih rapi, lebih berhati-hati. Rindu pun dibiarkan matang, tidak ditutup instan, sehingga saat bertemu, lega yang dirasakan sungguh nyata.
Sekarang segalanya instan. Balasan cepat sering terasa kewajiban, bukan hadiah. Menunggu dianggap sulit. Padahal dulu, menunggu normal, dan kita tetap menaruh prasangka baik.
Pelajaran cinta yang pelan ini sederhana: kesetiaan bukan hanya soal tidak berpaling, tapi soal tidak menghilang. Dulu menghilang susah, karena semua orang tahu alamat. Sekarang menghilang terlalu mudah cukup dibaca lalu diam.
Tidak perlu menunggu nostalgia untuk jadi romantis. Hadir dengan niat baik saja sudah cukup. Menepati janji-janji kecil, memberi kabar, menghargai rindu. Karena pada akhirnya, cinta bukan soal era atau gadget. Cinta adalah kesediaan untuk tetap ada, membuat rindu pulang ke tempat yang seharusnya, tapi dengan cara yang lebih dewasa.






