Tangerang, TERBITHARIAN.COM – Banjir kembali melanda wilayah Kota Tangerang, tepatnya di Perumahan Villa Mutiara Pluit, Kecamatan Periuk, pada Minggu dini hari. Peristiwa ini terjadi sekitar pukul 03.30 WIB saat sebagian warga tengah bersiap menjalankan sahur di bulan Ramadan. Kejadian tersebut membuat warga terkejut karena air datang secara tiba-tiba dengan volume yang cukup besar hingga langsung menggenangi jalanan dan rumah-rumah di kawasan tersebut. Minggu, 8 Maret 2026.
Suasana dini hari yang biasanya tenang mendadak berubah menjadi kepanikan. Dalam hitungan menit, air mulai memasuki halaman rumah warga dan terus meningkat dengan cepat. Sebagian warga terbangun oleh suara teriakan tetangga yang saling memperingatkan akan datangnya banjir, sementara yang lain baru menyadari saat air sudah menggenangi lantai rumah mereka.

Banjir diduga dipicu oleh curah hujan lebat yang turun secara terus-menerus sejak malam hari. Kondisi tersebut menyebabkan tanggul di sekitar kawasan jebol, sehingga luapan air dari Danau Situ Bulakan tidak lagi terbendung dan langsung mengalir ke permukiman warga.
Akibatnya, air dengan cepat merendam rumah-rumah warga dengan ketinggian mencapai sekitar 2,5 meter. Warga yang terkejut dengan datangnya air secara tiba-tiba pun berusaha menyelamatkan diri serta barang-barang berharga yang masih dapat dijangkau.
Ghifar, salah seorang warga RW 013 Perumahan Villa Mutiara Pluit, menjelaskan kronologi kejadian saat banjir mulai memasuki kawasan permukiman.
“Sekitar pukul 3 pagi air datang tiba-tiba. Warga langsung berbondong-bondong evakuasi motor dan mobil ke komplek seberang yang lebih tinggi. Tapi banyak yang tidak sempat menyelamatkan barang-barang di rumah,” ujar Ghifar.

Menurut warga, banjir kali ini dinilai lebih parah dibandingkan banjir sebelumnya yang terjadi pada akhir Januari lalu. Selain ketinggian air yang lebih besar, derasnya arus membuat sebagian warga kesulitan mengevakuasi barang maupun kendaraan.
Beberapa warga terlihat hanya bisa menyaksikan air terus meninggi sambil membawa barang seadanya. Anak-anak dan lansia menjadi prioritas untuk segera dievakuasi ke tempat yang lebih aman. Dalam kondisi gelap dan hujan yang masih turun, sebagian warga berjalan menembus air demi mencapai lokasi yang lebih tinggi.
Hingga saat ini, warga masih berupaya bertahan sambil menunggu bantuan dan penanganan dari pihak terkait. Banyak keluarga yang memilih mengungsi ke area yang lebih tinggi demi menghindari risiko yang lebih besar jika ketinggian air kembali bertambah. Warga berharap pemerintah daerah segera melakukan penanganan darurat serta perbaikan tanggul agar kejadian serupa tidak terus berulang, terutama saat curah hujan tinggi yang masih berpotensi terjadi dalam beberapa waktu ke depan.






