“Hello Kitty dan Wajah Tanpa Mulut: Filosofi Diam dalam Dunia Bising”

TERBITHARIAN.COM- Dalam dunia yang semakin riuh oleh opini, ekspresi, dan kecemasan digital, ada satu karakter ikonik yang tetap eksis tanpa perlu berkata sepatah kata pun: Hello Kitty.

Diciptakan oleh Yuko Shimizu pada tahun 1974 dan diperkenalkan oleh perusahaan Sanrio, Hello Kitty telah melampaui sekadar tokoh kartun. Ia menjadi simbol budaya global yang muncul di segalanya dari ransel anak-anak hingga jet pribadi. Namun satu pertanyaan filosofis terus menggema di kalangan pengamat budaya pop dan penggemarnya: mengapa Hello Kitty tidak memiliki mulut?

Sanrio pernah menjelaskan bahwa Hello Kitty tidak memiliki mulut agar orang-orang bisa memproyeksikan perasaannya sendiri ke karakter tersebut. Jika kamu bahagia, Hello Kitty bahagia. Jika kamu sedih, Hello Kitty juga tampak bersedih. Dengan kata lain, Hello Kitty adalah cermin emosi. Ia hadir bukan untuk berbicara, tetapi untuk merasakan bersama.

“Hello Kitty is not just a character. She is an idea,” kata Kazuo Tohmatsu, pengamat budaya Jepang di Universitas Waseda. “Dia mengajarkan kita tentang kekuatan kehadiran diam dalam budaya yang terus-menerus menuntut suara.”

Dalam dunia filsafat Timur, terutama dalam Zen Buddhisme, konsep “keheningan” dianggap sebagai bentuk komunikasi tertinggi. Lao Tzu pernah menulis, “Diam adalah sumber kekuatan besar.” Mungkin Hello Kitty adalah manifestasi modern dari prinsip tersebut.

Sebaliknya, dari sudut pandang Barat, kita mungkin bisa melihat Hello Kitty sebagai bentuk eksistensialisme. Dalam absurditas dunia modern di mana makna tidak diberikan, tetapi diciptakan oleh individu Hello Kitty adalah karakter tanpa narasi tetap, tanpa emosi eksplisit, dan tanpa suara. Kita yang memberi makna padanya. Dia adalah kanvas kosong.

Namun, ironi terbesar mungkin terletak pada bagaimana karakter ini, yang tidak bisa berbicara, menjadi salah satu brand voice paling kuat dalam sejarah global. Penjualan produk Hello Kitty bernilai miliaran dolar setiap tahunnya. Ia menjadi duta budaya Jepang, wajah kolaborasi mode mewah, hingga simbol identitas alternatif di kalangan subkultur.

Seiring dunia modern yang semakin bising dari media sosial hingga politik global Hello Kitty tetap diam, namun tetap dilihat, dikenang, dan dicintai.

Mungkin dalam wajah putih polosnya yang tanpa ekspresi itu, ada pelajaran filosofis yang jarang kita sadari: bahwa kehadiran tidak selalu harus disuarakan. Bahwa makna tidak harus dijelaskan. Dan bahwa terkadang, diam adalah bentuk komunikasi paling tulus.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *