Tangerang, TERBITHARIAN.COM – Ruang sidang pengadilan agama kini tak lagi didominasi oleh kisah perceraian akibat masalah klasik seperti ekonomi atau perselingkuhan secara fisik. Alih-alih, bukti-bukti baru kerap disodorkan, riwayat pesan singkat, jejak di media sosial, atau tagihan pinjaman online (pinjol) yang membengkak. Di balik layar ponsel yang tampak canggih, teknologi justru menjadi pemicu keretakan rumah tangga, membuat ponsel sering kali terasa lebih intim daripada pasangan hidup.
Perkembangan teknologi memang menjanjikan kemudahan, namun juga membuka celah berbahaya bagi hubungan. Fenomena perselingkuhan online, yang kini kian marak, menjadi salah satu penyebab utamanya. Awalnya mungkin hanya sekadar interaksi ringan di media sosial, atau chat intens dengan kenalan lama. Namun, dari curhatan yang berlanjut, interaksi virtual ini bisa berkembang menjadi ikatan emosional yang mengancam komitmen pernikahan. Kasus-kasus seperti ini telah banyak diadukan di pengadilan agama, yang mana media sosial menjadi bukti kuat rusaknya kepercayaan.
Selain perselingkuhan, kecanduan pada gadget juga menjadi racun perlahan. Banyak pasangan yang terjebak dalam dunianya sendiri. Asyik bermain game, asyik berselancar di media sosial, atau sibuk dengan hobi online masing-masing. Komunikasi tatap muka menjadi minim, obrolan penting tentang kehidupan sehari-hari tergantikan oleh kesibukan di layar ponsel. Jarak emosional pun tercipta, membuat pasangan merasa diabaikan dan kesepian, padahal mereka berada di ruangan yang sama.
Fenomena ini tidak asing lagi di Tangerang. Data dari Pengadilan Agama (PA) Tangerang menunjukkan bahwa hingga September 2025, 1.709 kasus perceraian telah diregistrasi. Angka ini sebagian besar disumbang oleh Kota Tangerang, yang pada bulan Maret 2025 saja mencatat penyebab perceraian akibat perselisihan terus-menerus sebanyak 186 kasus. Perselisihan ini sering kali dipicu oleh permasalahan yang berakar dari teknologi, seperti kecanduan gadget, judi online dan pinjol.Angka ini mencerminkan betapa rentannya keluarga terhadap godaan teknologi yang destruktif ini.
Praktik judi online yang kian mudah diakses telah menjerat banyak orang, membuat mereka kecanduan dan kehilangan akal sehat. Dana keluarga habis untuk berjudi, bahkan tak sedikit yang terjerat utang hingga miliaran rupiah.
Ketika keuangan keluarga terpuruk akibat judi, pinjol menjadi jalan pintas yang justru memperparah keadaan. Pinjaman online yang berbunga tinggi dan praktik penagihan yang mencekam semakin membuat hidup pasangan dan keluarga hancur. Banyak istri yang akhirnya menggugat cerai karena tidak tahan dengan kebiasaan buruk suami yang kecanduan judi dan jerat pinjol.
Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan kesadaran dan komitmen dari pasangan. Pertama, membangun komunikasi terbuka sangatlah penting. Pasangan harus berani membicarakan masalah dan menetapkan batasan yang jelas terkait penggunaan gawai dan media sosial. Kedua, melatih empati dan mendengarkan pasangan juga krusial. Alih-alih sibuk dengan dunia sendiri, berikan waktu dan perhatian penuh saat pasangan sedang berbicara. Ketiga, prioritaskan pasangan dan hubungan di atas segalanya. Mengingat kembali komitmen di awal pernikahan dan meluangkan waktu berkualitas tanpa ponsel bisa membantu mengembalikan kehangatan.
Pada akhirnya, teknologi adalah alat yang netral. Dampaknya bergantung pada bagaimana kita menggunakannya. Menjaga keintiman dalam hubungan di era digital membutuhkan usaha ekstra, namun ini adalah investasi berharga untuk mempertahankan keutuhan rumah tangga dari jerat teknologi yang mengancam.






