Kota Tangerang, TERBITHARIAN.COM – Di tengah krisis kemanusiaan, kerusakan lingkungan, dan rapuhnya kepekaan sosial kaum terdidik, Wisuda Ke-IV Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Nusantara Tangerang hadir bukan sekadar sebagai ritus akademik, melainkan sebagai pernyataan ideologis. Wisuda ini menegaskan satu pertanyaan mendasar yang kerap luput diajukan: untuk apa gelar sarjana diraih, dan kepada siapa ilmu harus diabdikan?

Sebanyak 113 wisudawan resmi dikukuhkan dalam prosesi khidmat yang digelar di Grand El Hajj Hotel (Asrama Haji Banten), Kamis, 22 Januari 2026. Namun, pengukuhan ini bukanlah akhir dari perjalanan intelektual, melainkan awal pertaruhan moral para lulusan di tengah realitas sosial yang timpang dan dunia yang kian kehilangan arah etik.
Mengusung tema “Peneguhan Lulusan Visioner Berkarakter Humanis dan Berwawasan Ekologis”, STISNU Nusantara secara tegas menolak model sarjana yang steril dari realitas, apatis terhadap penderitaan, dan menjadikan ilmu sekadar alat mobilitas sosial. Wisuda ini justru menegaskan bahwa ilmu harus berpihak, berakar pada nilai keislaman, dan hadir sebagai daya ubah bagi masyarakat.

Ketua Pelaksana Wisuda Ke-IV, Rian Ripandi, S.Kom., menekankan bahwa keberhasilan acara ini lahir dari kerja kolektif yang dilandasi nilai tanggung jawab dan kebersamaan—nilai yang seharusnya juga menjadi fondasi pengabdian para lulusan pascawisuda.
“Wisuda ini adalah hasil kerja kolektif yang menegaskan pentingnya komitmen dan tanggung jawab bersama. Nilai-nilai inilah yang harus dibawa para lulusan saat terjun ke masyarakat,” tegasnya.
Nada ideologis semakin menguat melalui pernyataan Wakil Ketua I STISNU Nusantara Tangerang, Ecep Ishak Fariduddin, M.A., yang secara lugas menyebut bahwa wisuda bukanlah puncak prestasi, melainkan awal amanah sosial dan intelektual.
“Gelar sarjana bukan trofi akademik, melainkan beban etik. Wisuda ini adalah tongkat awal untuk memikul tanggung jawab yang lebih besar. Sarjana STISNU tidak boleh berhenti pada kenyamanan gelar, tetapi harus melampaui kami para dosen baik secara keilmuan maupun keberpihakan sosial,” ujarnya.
Ia juga mendorong para lulusan untuk melanjutkan studi ke jenjang S2 dan S3, bukan semata demi gelar, melainkan sebagai bagian dari kaderisasi intelektual NU yang berkelanjutan dan berdaya saing global.
Apresiasi dari Wakil Wali Kota Tangerang, H. Maryono Hasan, AP., M.Si., mempertegas peran strategis STISNU dalam mencetak sumber daya manusia yang tidak tercerabut dari nilai kebangsaan dan kebudayaan.
“Sarjana hari ini dituntut bukan hanya cerdas, tetapi juga tangguh secara karakter dan berakhlak. STISNU telah mengambil posisi penting dalam mencetak pribadi yang berdaya saing sekaligus berbudaya,” ujarnya.
Sementara itu, Rektor STISNU Nusantara Tangerang, Dr. KH. Muhammad Qustulani, M.A.Hum., secara tegas menolak dikotomi antara ilmu, iman, dan kepedulian sosial. Menurutnya, tantangan global menuntut kehadiran sarjana yang mampu memadukan nalar kritis, spiritualitas Islam, dan kesadaran ekologis.
“Di tengah krisis kemanusiaan dan kerusakan lingkungan, ilmu pengetahuan tidak boleh netral nilai. Lulusan STISNU Nusantara harus berdiri sebagai bagian dari solusi, bukan penonton sejarah,” tegasnya.
Prosesi wisuda ini juga dihadiri sejumlah tokoh nasional dan regional, seperti KH. Hapis Gunawan (PWNU Banten), Prof. Dr. Suririn, M.Ag, (Kopertais Wilayah I Jakarta–Banten), serta Prof. Dr. Phil. Sahiron, M.A. dari Kementerian Agama RI. Kehadiran mereka menegaskan posisi STISNU Nusantara sebagai bagian dari arus utama pendidikan tinggi keagamaan Islam yang tidak hanya mencetak sarjana, tetapi kader pemikir dan penggerak umat.
Pengamanan oleh Barisan Ansor Serba Guna (Banser) Kota Tangerang turut memperkuat pesan ideologis wisuda ini bahwa tradisi keilmuan NU berjalan seiring dengan militansi sosial dan komitmen kebangsaan.
Empat tahun proses akademik akhirnya bermuara pada momen pengukuhan. Namun, almamater yang disematkan bukanlah simbol kemapanan, melainkan penanda keberpihakan. Di titik inilah Wisuda Ke-IV STISNU Nusantara Tangerang menemukan maknanya: melahirkan sarjana yang tidak sekadar tahu, tetapi berani berpihak; tidak hanya cerdas, tetapi juga bertanggung jawab; dan tidak netral di hadapan ketidakadilan.






