Tangerang Selatan, TERBITHARIAN.com – Rumah Go’A milik seniman Dik Doank kembali menjadi ruang ekspresi seni yang hidup melalui gelaran acara “Selasa Rupa” pada Selasa, 4 November 2025. Mengusung tema “Tak Wayang Maka Tak Sayang,” acara ini menghadirkan diskusi budaya dan podcast yang menyoroti kekayaan tradisi Wayang Potehi warisan seni Tionghoa yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya Nusantara.

Acara yang dimulai pukul 16.00 WIB ini menghadirkan Dwi Woro Retno Mastuti, pendiri Rumah Cinwa (Rumah Cinta Wayang) sekaligus dosen senior Bahasa dan Sastra Jawa di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia, sebagai narasumber utama. Melalui dialog yang hangat, Woro mengajak masyarakat untuk kembali mencintai dan mengenali wayang sebagai jati diri bangsa.

Dwi Woro Retno Mastuti, mengatakan dalam wawancara eksklusif dengan Wartawan TERBITHARIAN.com “Wayang potehi bukan hanya seni pertunjukan, tetapi juga jembatan kebudayaan yang mengajarkan nilai kemanusiaan dan kebijaksanaan. Tak wayang, maka tak sayang karena mencintai wayang berarti mencintai warisan budaya kita sendiri,” ujar Dwi Woro Retno Mastuti.
Rumah Cinwa: menjaga cinta untuk Wayang Nusantara, didirikan pada 23 November 2014, Rumah Cinwa lahir dari kepedulian Woro terhadap lunturnya minat generasi muda pada seni wayang, khususnya wayang potehi. Komunitas ini berfungsi sebagai wadah bagi pencinta, peneliti, dan pelaku seni yang berkomitmen melestarikan wayang sebagai simbol keberagaman dan persaudaraan budaya di Indonesia.
Melalui kegiatan seperti pertunjukan, diskusi, dan pelatihan, Rumah Cinwa berupaya menghadirkan kembali semangat cinta budaya di tengah arus modernisasi,” tutupnya Dwi Woro Retno Mastuti.
Rumah Go To Allah (Go’A) ruang kolaborasi seni dan budaya, Rumah Go’A, yang dikenal sebagai pusat kegiatan seni dan spiritualitas milik Dik Doank, menjadi tuan rumah yang ideal bagi perhelatan budaya ini. Dengan dukungan lingkungan kreatif dan terbuka, Rumah Go’A menghadirkan suasana dialog yang akrab dan inspiratif.
Acara “Selasa Rupa” kali ini menjadi simbol kolaborasi antara seniman dan akademisi dalam menjaga warisan budaya bangsa agar tetap relevan di era modern.
“Kami ingin Rumah Go’A terus menjadi rumah bagi para pelestari seni dan budaya. Kegiatan seperti ini penting agar generasi muda tetap mengenal dan bangga pada akar budayanya,” ungkap Dik Doank.
Acara ditutup dengan photo bersama dan pegelaran wayang potehi dan obrolan ringan antara peserta yang hadir, meninggalkan pesan mendalam tentang pentingnya menjaga warisan budaya sebagai sumber identitas bangsa.
Rumah Cinwa (Rumah Cinta Wayang) didirikan oleh Dwi Woro Retno Mastuti pada tahun 2014 sebagai wadah bagi pencinta wayang Nusantara. Rumah Cinwa aktif dalam edukasi, penelitian, dan pertunjukan wayang, terutama wayang potehi, untuk memperkenalkan kekayaan budaya kepada masyarakat luas.
Rumah Go’A adalah ruang seni dan spiritual yang digagas oleh Dik Doank, seniman dan pegiat budaya Indonesia. Rumah ini menjadi tempat pertemuan berbagai komunitas seni dan kegiatan budaya yang berfokus pada nilai kemanusiaan, kreativitas, dan pelestarian tradisi.






