Artikel, TERBITHARIAN.COM
Ada sebuah ironi yang semakin terasa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ketika rakyat mengeluh tentang harga kebutuhan yang semakin mahal, pelayanan yang mengecewakan, atau kebijakan yang dianggap tidak berpihak kepada mereka, sering kali suara itu tenggelam dalam kesibukan para penguasa. Namun, ketika seorang pejabat mendapat kritik, sebagian masyarakat justru tampil paling depan membela, seolah-olah kehormatan pejabat adalah kehormatan pribadi mereka.
Lucunya negeri ini, rakyat yang seharusnya dibela justru sibuk membela mereka yang seharusnya membela rakyat.
Pejabat dipilih, diangkat, dan diberi amanah untuk mengurus kepentingan masyarakat. Jabatan bukanlah mahkota untuk disanjung, melainkan tanggung jawab yang harus dipertanggungjawabkan. Tetapi terkadang, yang terlihat justru sebaliknya: rakyat lebih sibuk menjaga nama baik pejabat daripada memastikan pejabat menjaga nasib rakyat.
Ketika kritik datang, yang dipersoalkan bukan lagi isi kritiknya, melainkan siapa yang berani menyampaikan. Ketika masyarakat mempertanyakan kebijakan, sebagian orang malah sibuk mencari alasan untuk membenarkan. Seakan-akan pejabat tidak boleh salah, tidak boleh ditegur, dan tidak boleh dikritik.
Padahal, membela pejabat bukan berarti membenarkan semua tindakannya, dan mengkritik pejabat bukan berarti membenci negara.
Kritik adalah bagian dari kepedulian. Rakyat yang mengkritik belum tentu ingin menjatuhkan, bisa jadi justru ingin melihat perubahan. Sebaliknya, pembelaan yang berlebihan tanpa melihat fakta bukanlah bentuk loyalitas yang sehat, melainkan berpotensi menjadi penghalang bagi perbaikan.
Lebih menyedihkan lagi ketika rakyat terpecah hanya karena perbedaan pandangan terhadap seorang pejabat. Persaudaraan dipertaruhkan, persahabatan direnggangkan, bahkan kebenaran terkadang dikorbankan demi mempertahankan sosok yang belum tentu mengenal siapa yang membelanya.
Sementara itu, rakyat yang benar-benar membutuhkan perhatian tetap menunggu. Mereka yang kesulitan mencari pekerjaan, mereka yang berjuang memenuhi kebutuhan keluarga, mereka yang berharap pelayanan publik lebih baik, dan mereka yang ingin hidup dengan keadilan, sering kali tidak mendapatkan pembelaan sekeras pembelaan terhadap pejabat.
Jangan sampai kita terlalu sibuk menjadi pembela pejabat, sampai lupa menjadi pembela sesama rakyat.
Negeri ini tidak kekurangan orang yang pandai memuji kekuasaan. Negeri ini justru membutuhkan lebih banyak orang yang berani menyampaikan kebenaran, meskipun kebenaran itu tidak selalu menyenangkan telinga mereka yang sedang berkuasa.
Pejabat yang baik tidak membutuhkan pembelaan membabi buta. Ia membutuhkan dukungan yang jujur, kritik yang membangun, dan masyarakat yang berani mengingatkan ketika ada yang keliru.
Sebab pada akhirnya, jabatan akan berakhir, kekuasaan akan berganti, dan pujian akan menghilang. Tetapi rakyat tetap hidup dengan dampak dari setiap kebijakan yang dibuat.
Lucunya negeri ini: ketika rakyat membutuhkan pembela, sebagian pejabat memilih diam. Namun ketika pejabat membutuhkan pembela, sebagian rakyat rela berteriak paling lantang.
Maka sudah waktunya kita mengubah cara berpikir. Jangan membela seseorang hanya karena jabatannya. Jangan membenarkan sesuatu hanya karena dilakukan oleh orang yang kita kagumi.
Bela kebenaran, bukan kekuasaan. Bela keadilan, bukan kepentingan. Dan yang paling penting, jangan pernah melupakan bahwa pejabat adalah pelayan rakyat, bukan rakyat yang menjadi pelayan pejabat.
Karena negeri yang sehat bukan negeri yang rakyatnya selalu membela pejabat, melainkan negeri yang pejabatnya sungguh-sungguh membela rakyat. Rakyat tidak membutuhkan pejabat yang selalu dipuji. Rakyat membutuhkan pejabat yang benar-benar peduli.






