Ngopi Senja Bahas Tuntas “Perempuan, Patriarki, dan Kesetaraan Gender”

Kota Tangerang, TERBIT HARIAN.COM –  Komunitas Ngopi Senja (Ngobrol Pintar Seni Menjaga Kebersamaan) kembali sukses menggelar diskusi publik bertajuk “Perempuan, Patriarki, dan Kesetaraan Gender” pada Minggu, 9 November 2025. Acara yang dimulai pukul 15.30 WIB ini berlangsung di Angkringan Dialektika, kawasan Kampung Bekelir Babakan, Kota Tangerang, dan dihadiri oleh mahasiswa dari berbagai kampus seperti UMT, UNIS, STISNU, serta UIN Jogjakarta. Selain itu, perwakilan komunitas, organisasi, dan masyarakat umum turut meramaikan jalannya diskusi.

Diskusi ini menyoroti isu-isu ketidakadilan gender dan beban ganda yang kerap dialami perempuan akibat sistem patriarki. Dalam pandangan para narasumber, patriarki telah lama menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama, sementara perempuan sering kali terpinggirkan baik dalam ranah domestik maupun publik. Akibatnya, muncul berbagai bentuk kekerasan dan diskriminasi—baik fisik, seksual, emosional, maupun ekonomi—yang dialami oleh perempuan.

Secara umum, benang merah dari pembahasan ini menggambarkan hubungan antara penindasan dan perjuangan. Sistem patriarki dianggap sebagai akar ketidaksetaraan, sedangkan gerakan kesetaraan gender hadir sebagai upaya membongkar struktur sosial tersebut untuk menciptakan tatanan yang lebih adil bagi semua.

Salah satu narasumber, Annisa Ardien, menekankan pentingnya pemahaman yang komprehensif terhadap isu kesetaraan gender.

“Untuk memaksimalkan perbaikan peran kaum perempuan ke depan, pemahaman mengenai kesetaraan gender mutlak diperlukan. Kesetaraan dan keadilan gender merupakan syarat untuk menciptakan tatanan masyarakat yang adil dan manusiawi,” ujarnya.

Annisa juga membantah pandangan bahwa gerakan kesetaraan gender berpotensi merusak tatanan sosial yang sudah ada. Sebaliknya, ia menegaskan bahwa tujuan sejati dari kesetaraan adalah membangun masyarakat yang adil, manusiawi, dan saling menghormati baik laki-laki maupun perempuan.

Narasumber lainnya, Agel Aprilisa, menggarisbawahi pentingnya pemberdayaan perempuan (empowerment) sebagai langkah nyata dalam mencegah diskriminasi dan mewujudkan kesetaraan.

“Ide utama pemberdayaan perempuan bersentuhan dengan konsep kekuasaan. Artinya, perempuan harus ditempatkan sebagai subjek pembangunan, bukan sekadar objek,” tegasnya.

Agel juga menjelaskan bahwa patriarki telah lama memarginalkan perempuan dengan menonjolkan superioritas laki-laki dan menempatkan perempuan hanya di ranah domestik. Padahal, konsep gender sejatinya merupakan konstruksi sosial yang menggambarkan relasi antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan gender tidak seharusnya menjadi sumber ketidakadilan atau diskriminasi.

Diskusi publik ini kemudian menegaskan bahwa perubahan sistem sosial menjadi kunci utama dalam menciptakan kesetaraan dan keadilan gender. Salah satu jalan menuju perubahan tersebut adalah melalui pemberdayaan perempuan, peningkatan kesadaran masyarakat, serta keterlibatan aktif kedua gender dalam memperjuangkan keadilan sosial.

Melalui Ngopi Senja, isu-isu sosial seperti ini tak hanya dibicarakan, tetapi juga dihidupkan dalam ruang dialog yang inklusif dan inspiratif menegaskan bahwa perjuangan menuju kesetaraan adalah tanggung jawab bersama.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *