STISNU Tangerang Perkuat Tradisi Sanad, Jalin Kerja Sama dengan Al-Azhar Kairo

Kota Tangerang, TERBITHARIAN.COM – Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Tangerang menegaskan komitmennya dalam membangun peradaban Islam melalui penguatan tradisi sanad, integrasi keilmuan, dan pembinaan akhlak. Komitmen tersebut diwujudkan dalam seminar internasional yang digelar di Aula Perpustakaan STISNU Tangerang. Sabtu, 25 April 2026.

Seminar bertema “Membangun Peradaban Islam melalui Integrasi Syariah, Hukum, Pendidikan, Ekonomi, dan Politik” ini menghadirkan narasumber utama, Assaid Muhammad Ali, tokoh ulama internasional asal Mesir dan mantan Menteri Wakaf.

Dalam paparannya, ia menegaskan bahwa peradaban Islam bertumpu pada tiga pilar utama, yakni manusia, ilmu pengetahuan, serta harta dan sumber daya. Menurutnya, manusia menjadi fondasi utama yang menentukan arah peradaban.

“Peradaban dibangun dari manusia. Jika manusia berkarakter, memiliki ilmu, dan bersungguh-sungguh dalam mengelola potensi, maka peradaban akan lahir dengan sendirinya,” ujarnya.

Ia menambahkan, ketiga unsur tersebut harus terintegrasi lintas disiplin tanpa sekat, mencakup bidang syariah, hukum, pendidikan, ekonomi, hingga politik, dengan orientasi akhir menuju ridha Allah SWT.

Pada momentum yang sama, STISNU Tangerang juga menjalin kerja sama akademik melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dengan Majma’ Al-Hasany, lembaga yang berafiliasi dengan Al-Azhar Kairo, Mesir.

Kerja sama ini difokuskan pada penguatan sanad keilmuan, pengembangan akademik, serta bimbingan langsung dari para ulama Al-Azhar. Program tersebut diharapkan mampu menghadirkan model pendidikan tinggi Islam yang adaptif terhadap perkembangan zaman, namun tetap berakar kuat pada tradisi keilmuan klasik.

Ketua STISNU Tangerang, Dr. H. Muhamad Qustulani, MA.Hum., menegaskan bahwa sanad merupakan distingsi utama dalam tradisi akademik STISNU.

“Keilmuan Islam tidak cukup hanya berbasis literasi teks, tetapi harus memiliki sanad yang jelas dan bersambung. Inilah yang menjadi kekuatan utama peradaban Islam,” katanya.

Ia juga menekankan bahwa dalam konteks Indonesia, tradisi sanad merupakan bagian dari kearifan lokal yang telah lama dijaga oleh ulama Nusantara. Integrasi antara pendekatan akademik modern dan tradisi sanad dinilai sebagai langkah strategis dalam menjaga keberlanjutan keilmuan Islam di tengah arus globalisasi.

Sementara itu, Assaid Muhammad Ali menyampaikan apresiasi atas inisiatif STISNU Tangerang dalam menjaga kesinambungan tradisi keilmuan Islam.

“Sanad adalah bukti kesinambungan ilmu dari generasi ke generasi. Kami menyambut baik kerja sama ini,” ujarnya.

Melalui kerja sama ini, mahasiswa dan dosen STISNU berpeluang memperoleh akses bimbingan langsung dari ulama dan akademisi di Kairo, khususnya dalam bidang syariah, hukum Islam, pendidikan, ekonomi, dan politik Islam.

Kegiatan ini menjadi tonggak penting bagi STISNU Tangerang dalam mengukuhkan diri sebagai institusi pendidikan berbasis pesantren yang berorientasi global, sekaligus memperkuat jejaring keilmuan Islam internasional.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *