PCNU Kota Tangerang dan STISNU Nusantara Inisiasi Penyusunan Fiqh Demokrasi Ala Nahdliyin

Kota Tangerang, TERBITHARIAN.COM | Upaya memperkuat demokrasi berbasis nilai-nilai keislaman dan tradisi ke-NU-an terus dilakukan oleh PCNU Kota Tangerang bersama STISNU Nusantara melalui kegiatan silaturrahim dan diskusi penyusunan fiqh demokrasi ala Nahdliyin yang digelar di Pondok Pesantren Raudhotus Salam, Cimone, Karawaci, Kota Tangerang.

Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah tokoh Nahdlatul Ulama dan akademisi yang membahas pentingnya membangun demokrasi yang berpijak pada nilai-nilai Islam moderat, kebangsaan, serta tradisi intelektual pesantren. Sabtu, 23 Mei 2026.Dalam kesempatan itu, Rais Syuriah PCNU Kota Tangerang, KH Abdul Mu’thi, menyampaikan kajian kitab karya Al-Kharizmi yang menyoroti pentingnya ilmu pengetahuan, etika sosial, dan tata kelola kehidupan. Menurutnya, tradisi intelektual Islam harus menjadi fondasi dalam merumuskan praktik demokrasi yang berkeadaban dan berorientasi pada kemaslahatan umat.

“Tradisi keilmuan pesantren memiliki kekayaan khazanah yang dapat menjadi pijakan moral dalam membangun demokrasi yang santun, adil, dan menghargai keberagaman,” ujar KH Abdul Mu’thi dalam pemaparannya.

Sementara itu, Ketua PCNU Kota Tangerang, KH Ahmad Kahfi, menekankan pentingnya kolaborasi seluruh elemen masyarakat dalam menjaga stabilitas sosial dan membangun Kota Tangerang yang aman serta terkendali.

Menurutnya, demokrasi tidak hanya dimaknai sebagai proses politik semata, melainkan juga sebagai ruang membangun kebersamaan dan tanggung jawab sosial antarwarga.

“Kolaborasi antara ulama, akademisi, pemerintah, dan masyarakat menjadi kunci dalam menciptakan Kota Tangerang yang harmonis, aman, dan memiliki ketahanan sosial yang kuat,” ungkap KH Ahmad Kahfi.

Di sisi lain, Ketua STISNU Nusantara, Dr Muhammad Qustulani, menegaskan bahwa penguatan demokrasi harus dilakukan melalui pendekatan akademik dan pengembangan literasi kritis di lingkungan kampus maupun pesantren.

Ia menilai, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam merawat demokrasi melalui tradisi ilmiah, riset, dan penguatan nilai-nilai moderasi beragama.

“Demokrasi harus diperkuat melalui jalur akademik agar lahir budaya dialog, penghormatan terhadap perbedaan, dan penguatan nilai kebangsaan di tengah masyarakat,” jelas Dr. Muhammad Qustulani.

Kegiatan silaturrahim tersebut turut dihadiri jajaran pengurus harian PCNU Kota Tangerang, civitas akademika STISNU Nusantara, serta kader PMII STISNU Nusantara.

Pertemuan itu diharapkan menjadi langkah awal dalam merumuskan konsep fiqh demokrasi ala Nahdliyin yang mampu menjawab tantangan demokrasi kontemporer dengan tetap berpijak pada nilai Islam rahmatan lil ‘alamin, tradisi pesantren, dan semangat kebangsaan Indonesia.

Sumber dari STISNU

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *