Tangerang, TERBITHARIAN.COM – Situasi pendidikan nasional Indonesia tengah berada di titik krusial. Di persimpangan arah masa depan bangsa, pendidikan tidak lagi sekadar menjadi sektor pelayanan publik, melainkan medan penentu nasib generasi yang akan datang, apakah mampu bersaing di panggung global atau justru tertinggal dalam pusaran perubahan zaman yang kian tak terelakkan. Berbagai isu makro mulai dari kesenjangan kualitas, akses pendidikan yang belum merata, hingga tantangan transformasi digital menjadi pekerjaan rumah besar yang perlu ditangani secara sistemik dan berkelanjutan. Minggu, 19 April 2026.
Di tengah arus perubahan global yang semakin cepat, sektor pendidikan nasional menghadapi tekanan untuk beradaptasi tanpa kehilangan jati diri. Transformasi digital, yang semakin dipercepat sejak pandemi, membuka peluang sekaligus memunculkan kesenjangan baru antara institusi yang siap dan yang tertinggal.
Ketua Dewan Pengurus Wilayah Asosiasi Dosen Indonesia (DPW-ADI) Banten, Prof. Dr. Ir. Untung Rahardja, M.T.I., MM., SMIEEE menilai bahwa pendidikan Indonesia saat ini membutuhkan pendekatan yang lebih adaptif dan inovatif. Menurutnya, perubahan paradigma tidak hanya menyangkut teknologi, tetapi juga cara berpikir seluruh pemangku kepentingan.
“Digitalisasi pendidikan bukan sekadar memindahkan proses belajar ke platform daring, tetapi bagaimana menciptakan ekosistem pembelajaran yang inklusif, fleksibel, dan berorientasi masa depan,” ujar Prof. Untung Rahardja dalam keterangannya.

Ia menyoroti bahwa kesenjangan akses masih menjadi persoalan mendasar, terutama di daerah yang belum memiliki infrastruktur digital memadai. Hal ini berpotensi memperlebar jurang kualitas pendidikan antarwilayah jika tidak segera diantisipasi melalui kebijakan yang tepat.
Selain itu, isu relevansi kurikulum dengan kebutuhan industri juga menjadi perhatian serius. Menurut Prof. Untung, banyak lulusan yang belum sepenuhnya siap menghadapi dunia kerja karena adanya ketidaksesuaian antara materi pembelajaran dan dinamika industri.
“Sinkronisasi antara dunia pendidikan dan dunia usaha harus diperkuat. Kurikulum perlu lebih responsif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan pasar kerja,” tambahnya.
Dalam konteks kebijakan, pemerintah dinilai telah melakukan sejumlah langkah strategis, namun implementasi di lapangan masih menghadapi berbagai kendala. Mulai dari kapasitas tenaga pendidik, distribusi sumber daya, hingga tata kelola pendidikan yang belum optimal.
Lebih lanjut, Prof. Untung Rahardja menekankan pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai fondasi utama pembangunan nasional. Ia mendorong kolaborasi antara pemerintah, institusi pendidikan, dan sektor swasta untuk menciptakan sistem pendidikan yang lebih tangguh dan berdaya saing global.
“Pendidikan adalah investasi jangka panjang. Jika kita ingin Indonesia maju, maka reformasi pendidikan harus menjadi prioritas utama yang dijalankan secara konsisten,” tegasnya.
Dengan berbagai tantangan yang ada, masa depan pendidikan nasional sangat ditentukan oleh kemampuan seluruh pihak dalam beradaptasi dan berkolaborasi. Tanpa langkah konkret dan terintegrasi, Indonesia berisiko tertinggal dalam kompetisi global yang semakin ketat.






